sikap kritis

Introspektif vs Kritis

“Introspeksilah dirimu!” adalah perintah yang sudah tak asing lagi saya dengar. Tapi, ada juga perintah lain yang sering berseliweran di sekitar telinga saya: “Bersikap kritislah!” Hmm, kalian pernah dengar seperti ini juga?

“Introspeksilah dirimu!” adalah perintah yang sudah tak asing lagi saya dengar. Tapi, ada juga perintah lain yang sering berseliweran di sekitar telinga saya: “Bersikap kritislah!” Hmm, kalian pernah dengar seperti ini juga?

Jujur, saya lumayan tergelitik tentang perkataan seseorang – walau saya tahu itu hanya pendapat subjektifnya – yang kurang-lebih berbunyi,

Hidup itu bukan mengkritisi orang lain, tapi introspeksi diri sendiri. Jangan sibuk memikirkan dan mengkritisi kesalahan orang, padahal kita masih banyak salah. Hidup itu ya untuk mengintrospeksi, memperbaiki, dan meningkatkan diri.”

Kenapa?

Karena saya lumayan merasa dan memang melatih diri untuk kritis. Apakah perkataan yang diucapkan di tengah-tengah forum itu memang untuk menyindir saya? Ah, itu berlebihan juga. Tapi kalau perkataan itu untuk orang-orang seperti saya, rasanya susah disangkal.

Apakah kritis itu salah? Atau introspeksilah yang benar?

Saya rasa, sebelum mulai, kita harus tahu dulu definisi keduanya, setidaknya dari sisi bahasa. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, introspeksi adalah peninjauan atau koreksi terhadap (perbuatan, sikap, kelemahan, kesalahan, dan sebagainya) diri sendiri; mawas diri. Kata “-tif” yang saya tambahkan di akhir kata sendiri saya maksudkan untuk mengubah kata itu menjadi adjektifa.

Sedangkan, kritis adalah bersifat tidak lekas percaya; bersifat selalu berusaha menemukan kesalahan atau kekeliruan; tajam dalam penganalisisan. Nah, dengan begini definisi kita – secara bahasa – akan kedua hal ini telah sama.

Saya kurang setuju dengan perkataan orang yang sudah saya sebutkan tadi.

Kenapa?

Kalau kita tidak kritis, bagaimana membangun pemikiran yang tajam? Kalau tidak mengkritisi orang, bagaimana kewajiban dakwah diemban? Kalau tidak dikritisi, bagaimana bisa berkembang? Kalau mengkritisi orang menunggu benar dulu, kita manusia yang selalu punya salah ini kapan akan menyampaikan? Kalau menunggu ilmu lengkap dahulu, mungkin baru bisa ketika sudah tua, sudah jadi syekh, yang saat itu pun tidak bisa dipastikan kita sudah lengkap ilmunya.

Pada awalnya, saya ingin berkoar-koar tentang kritis yang tidak salah. Tentang kritis itu harus ditumbuhkan. Tentang terpaku hanya pada introspeksi diri sendiri itu juga salah karena mengabaikan sekitar.

Ya, pada awalnya.

Untungnya, saya bertanya pada seseorang tentang dua hal tadi.

“Pilih introspektif atau kritis?” tanya saya.

Jawabannya menyadarkan saya,

“Introspeksi kan juga bagian dari kritis. Kritis terhadap diri sendiri.”

Iya juga, ini kan lebih sederhana. Kenapa saya berpikir dua kata ini berlawanan? Padahal mereka dua kata yang saling berkelindan. Kenyataannya kritik untuk orang seringkali juga pas untuk kita, jadi kalau bisa dua-duanya, kenapa hanya salah satu?

Jadi, jadilah orang yang kritis. Terhadap keadaan, keputusan, perbuatan, terutama diri kita. Tajamlah dalam menganalisis, temukan kesalahan, lakukan “luar-dalam”! Jangan terpaku introspeksi lalu jadi abai terhadap sekitar. Jangan terus mengkritisi orang lain tanpa menyadari kesalahan diri.

Keep balance!

Lalu terakhir, tetap perhatikan adab ketika mengkritik! Kita belajar bersama, ya!

ditulis oleh: Masvans

Leave a Reply