Alamat:
Telap, Karang, Kec. Karangpandan, Kab. Karanganyar, Jawa Tengah 57791
Kontak: 0882-2001-2016
melahirkan muslimah gemilang di usia belia
melahirkan muslimah gemilang di usia belia

“Icha tahu nggak kapal terbesar zaman ini?” Abah memberiku sebuah pertanyaan.
Hari masih gelap, jam menunjukkan pukul 04.20.
Rasanya belum lama aku tidur, ada yang mengguncang lenganku pelan, membangunkanku. Aku menguap lebar, malas sekali rasanya untuk bangun.
“Icha,” itu suara Umma, membangunkanku.
“Hmm.. iya, ini Icha udah bangun,” ucapku sembari mengucek mata.
Setelah salat, Umma langsung menyuruhku bersiap.
“Mau ke mana?” tanyaku, tapi Umma hanya tersenyum sebagai jawaban. Aku hanya menurut, bersiap, mengganti outfit-ku.
Mobil melaju di jalanan dengan kecepatan normal, Abah mengemudikannya dengan santai. Sesekali berhenti karena lampu merah. Terus melaju hingga beberapa saat kemudian.
Matahari mulai terlihat, aku melirik jam tanganku, sudah pukul 07.00. Aku menyandarkan punggung pada sandaran kursi.
“Ma, masih lama, ya?” tanyaku tak sabaran.
“Bentar lagi juga sampai.” Umma menjawab dengan senyuman khasnya.
Aku melangkah keluar mobil tanpa alas kaki, merasakan lembutnya pasir pantai. Menghirup napas dalam-dalam, mendengarkan deburan ombak yang susul-menyusul.
“Abah, ayo ke sana!” kataku sambil menunjuk jajaran perahu, melangkah duluan.
“Naik ini, ya?” pintaku sambil menunjuk salah satu perahu. Abah lantas menyewa satu kapal untuk kami bertiga.
Kapal bergerak perlahan di atas air. Sesekali aku menurunkan tanganku, sedikit membungkuk agar bisa menyentuh air laut.
“Icha,” panggil Abah, memulai pembicaraan.
Aku menoleh, “Ya?”
“Icha tahu nggak kapal terbesar zaman ini?” Abah memberiku sebuah pertanyaan. Aku berpikir sebentar, lantas menggeleng, “Lupa, Bah.”
“Yah, berarti ini PR buat Icha ya.”
“Emang kenapa?” tanyaku.
“Yaudah, gini aja, Icha coba bayangin kapal yang besar banget. Udah?”
Aku mengangguk. Abah melanjutkan ucapannya, “Nah, kapal yang sangat besar itu aja masih kalah sama kapal punya Pati Unus dulu.”
“Kapal perang punya Pati Unus itu sangat-sangat besar, berlayar megah di lautan. Pernah, suatu kali, Belanda menembaki habis-habisan kapal itu. Apa yang terjadi? Kapal itu hanya rusak sedikit, tetap berlayar megah. Ternyata, kapal itu terdiri dari tiga lapis, dan hanya lapisan pertama yang rusak.”
Mataku berbinar setengah tak percaya, “Terus?”
“Ya, tapi setelah kejadian itu, Belanda menetapkan batas maksimal berat kapal. Jadi, kapal sekarang itu nggak ada apa-apa nya.”
Aku manggut-manggut, masih berusaha membayangkan sebesar apa kapal perang milik Pati Unus.
“Cha?” suara Umma membuyarkan lamunanku. “Nggak turun?” tanya Umma, membuatku sadar, perahu ini sudah sampai di tepi pantai sejak beberapa detik lalu.
“E-eh, iya, ini mau turun,” aku turun dengan cepat.
Hari beranjak siang, cahaya matahari mulai terasa panas. Abah mengajak pulang, aku dan Umma mengangguk. Aku segera berganti pakaian lagi, karena pakaian yang sekarang kukenakan sudah sangat basah.
Setelah berganti, aku segera masuk mobil, Umma dan Abah sudah menunggu di dalam. Mobil pun melaju lagi di jalanan yang mulai padat. Dan sampai di rumah dua kali lipat lebih lama.
ditulis oleh: Seion