santri mengaji madrasah putri at taqwa

Kriteria Pendidik Sukses

Suksesnya pendidikan bukan dimulai dari memperbaiki anak didik, tetapi harus dimulai dari kualitas pendidik.

Suksesnya pendidikan bukan dimulai dari memperbaiki anak didik, tetapi harus dimulai dari kualitas pendidik.

Keberhasilan sebuah proses pendidikan akan sangat berimplikasi dengan karakter pendidik. Ada karakter-karakter mendasar yang apabila seorang pendidik memilikinya, maka akan banyak membantunya dalam melakukan aktivitas pendidikan.

Seorang pendidik harus berusaha menjadi teladan bagi anak didiknya. Sebab, proses transfer ilmu akan lebih mudah diserap ketika melihat keteladanan, bukan hanya teori dan angan-angan. Tentu kita harus banyak mempelajari karakter pendidik yang telah berhasil dalam dunia pendidikan. Pendidik terbaik sepanjang masa itu adalah Rasulullah ﷺ.

Karakter Pendidik Ideal

Lantas, bagaimana karakter-karakter yang seharusnya dimiliki oleh pendidik agar sukses dalam proses pendidikan?

Tenang dan tidak terburu-buru

Diriwayatkan oleh Muslim, dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah ﷺ bersabda kepada Asyaj bin Abdil Qais,

“Sesungguhnya pada dirimu terdapat dua perkara yang dicintai Allah: tenang dan tidak terburu-buru.”

Lembut dan tidak kasar

Diriwayatkan oleh Ahmad dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda kepadanya,

“Wahai Aisyah, bersikap lembutlah, karena sesungguhnya apabila Allah menghendaki kebaikan pada suatu keluarga, Dia masukkan kelembutan di hati mereka.”

Hati yang penyayang

Diriwayatkan oleh al-Bazzar dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma,

”Sesungguhnya setiap pohon selalu memiliki buah. Buah hati adalah anak. Sesungguhnya Allah tidak menyayangi orang yang tidak sayang kepada anaknya. Demi jiwaku yang berada di Tangan-Nya, tidak akan masuk surge selain orang yang penyayang.” Kami katakana, “Wahai Rasulullah, setiap kita menyayangi?” Beliau menjawab, “Bukanlah yang dimaksud dengan kasih-sayang adalah seseorang menyayangi temannya. Yang dimaksud dengan kasih sayang adalah menyayangi seluruh umat manusia.”

Memilih yang termudah selama bukan termasuk dosa

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata,

“Tidaklah Rasulullah menentukan pilihan antara dua perkara melainkan beliau memilih yang termudah di antara keduanya selama bukan termasuk dosa. Apabila termasuk dosa, maka beliau menjadi orang yang paling menjauhinya. Tidaklah Rasulullah marah untuk dirinya sendiri dalam masalah apa pun kecuali apabila syariat Allah dilanggar, maka beliau akan marah karena Allah ﷻ.” [Muttafaqun ‘alaih]

Toleransi

Apa yang dimaksud dengan toleransi? Toleransi adalah kemampuan untuk memahami orang lain dalam bentuk yang optimal. Bukan dalam pandangan yang sempit, sehingga maknanya bukan kelemahan dan kehinaan, tetapi maksudnya adalah memberi kemudahan sebagaimana yang diperbolehkan oleh syariat.

Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda,

“Maukah aku beritahukan kalian tentang orang yang haram masuk neraka dan neraka haram atasnya? Yaitu setiap orang yang mudah, dekat, dan toleransi.” [HR. Tirmidzi, Ibnu Hibban, al-Kharaithi, Ahmad, dan at-Thabrani nomor 938.]

Menjauhkan diri dari marah

Sesungguhnya kemarahan, fanatisme, dan rasialisme adalah sifat negatif dalam aktivitas pendidikan. Bahkan, demikian juga dalam sosial kemasyarakatan. Apabila seseorang dapat menahan amarahnya dan sanggup menguasai dirinya, maka itu adalah kebahagiaan baginya dan bagi anak-anaknya.

Nabi ﷺ pernah mewanti-wanti seseorang yang datang meminta nasihat dari beliau. Tiga kali beliau bersabda, “Jangan marah!” Beliau juga menganggap bahwa keberanian adalah kemampuan untuk menahan amarah.

Seimbang dan proporsional

Bersifat ekstrem adalah sifat yang tercela pada urusan apa pun. Rasulullah ﷺ adalah orang yang paling seimbang dan proporsional dalam urusan agama. Dari Abu Mas’ud ‘Uqbah bin Umar al-Badri radhiyallahu ‘anhu, seseorang datang menghadap Rasulullah ﷺ dan berkata,

“Sesungguhnya aku akan terlambat salat Subuh karena si fulan yang menjadi imam kami memanjangkan salatnya.” Belum pernah aku melihat Rasulullah ﷺ marah dalam nasihatnya semarah hari itu. Beliau bersabda,

“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya di antara kalian ada orang-orang yang membuat lari orang lain. Siapa saja di antara kalian yang menjadi imam, hendaknya memendekkan salatnya, karena sesungguhnya yang berdiri di belakangnya adalah orang tua, anak kecil dan orang yang sedang memiliki keperluan.” [Muttafaqun ‘alaih]

Selingan dalam memberi nasihat

Memberikan nasihat yang baik adalah dengan cara berselang-seling, tidak setiap hari. Memberikan nasihat dengan jarang justru sering kali menghasilkan sesuatu yang luar biasa, biidznillah. Oleh karena itu, Imam Abu Hanifah menasihatkan kepada murid-muridnya dengan mengatakan, “Janganlah engkau ungkapkan pemahaman agamamu kepada orang yang tidak menginginkannya.”

Leave a Reply